Writing is an antidote for loneliness.” — Steven Berkoff

––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––

And he’s right.

Mood saya belakangan ini lagi parah banget. Labilnya keterlaluan. Kebanyakan turunnya daripada naik dan saya nggak ngerti apa penyebabnya. Diingat, dipikir, direnungkan, sepertinya ada kemungkinan besar saya sedang dirasuki jin pemarah dan tukang ambekan hingga membuat saya benar-benar dalam keadaan be-to-the-te.

Yes, bete. Kalau mau dikaitkan sama meme, dalam kondisis Bete Maksimum.

Waktu saya cari-cari apa penyebabnya, sepertinya kebanyakan pengaruh dari rasa iri yang belakangan ini ada. Atau rasa kesepian. Ingin rasanya mengobrol dengan seseorang kecuali kalangan keluarga, ngalor-ngidul, nggak cuma berdiam diri dengan ponsel serta buku di tangan walau saya sering melakukannya. Entah mengapa tiga hari ini ada perasaan terkucilkan oleh dunia sekitar. Saya merasa seperti kurcaci di dunia raksasa, tidak dianggap dan siap diinjak kapan saja.

Aura negatif mulai terpancar. Dan saya nggak suka.

Emosi memuncak, rasanya ingin berguling-guling lalu berteriak tapi saya nggak bisa. Ada rasa ingin nangis sekeras mungkin tapi saya nggak bisa. Ya, saya butuh pelampiasan emosi selain meracau nggak jelas di twitter yang kemudian bisa langsung dicap galau.

Oke, silakan sebut saya dalam fase galau. Sah saja.

Namun setelah dipikir lagi…

….

….nampaknya kata kesepian memang paling tepat untuk saya.

Nggak, saya nggak bicara soal kejombloan yang hampir 21 tahun saya rasakan. Hal lain. Entah karena sifat bungkam saya yang benar-benar menjerumuskan pada keterpurukan di jurang terdalam kemudian sulit untuk dibangkitan, lalu menjadikan saya tak sanggup untuk memanjat naik karena terlalu takut. Saat ini, bagi saya, meringkuk di dalam jurang adalah pilihan terbaik.

Ah, entahlah.

Saya mau menangis dalam hati dulu.

 
Posted on February 19, 2012 with 1 notes
tagged: blog.
  1. manualexcel2007 reblogged this from whitelie-allies
  2. whitelie-allies posted this