Absurdisitas di balik warna

Empat ratus ribu hasil keringat sendiri atau enam ratus ribu dari orang tua?

Mungkin sebagian bakal bilang—enam ratus ribu is a better choice. Untuk soal akademis nggak apa lah ya, tapi belakangan semenjak saya magang menghasilkan duit dan kondisi keuangan keluarga memang gonjang-ganjing gegara kerjaan nyokap lagi banyak halangan. Harusnya saya mikir dua kali buat make empat ratus ribu hasil keringat sendiri itu, baiknya dibelanjakan untuk apa.

Hasilnya, gaji sebulan habis dalam seminggu. Buku, makanan, tas. Kurang boros apalagi? Mama bilang, saya konsumtif. Memang. Tapi duit biasanya lebih berat ke buku daripada baju, kosmetik, etc—karena pada dasarnya saya cinta buku; apalagi komik.

Kenapa Mama marah-marah saya boros belanja buku?

Mungkin, karena saya nggak bisa nabung. Atau belum berusaha. Mama sempat menyeletuk saya harus bisa nabung sampai nominal Rp.5jt (yang berarti harus cari kerjaan freelance baru di sela-sela hectic menjelang TA), sebenarnya sih nggak mustahil. Tapi godaan itu selalu ada. Buku.

Belum lagi buat TA nanti pengeluaran makin bengkak. Heheu.

Dan bisnis Mama-Papa juga lagi banyak masalah. Aheuheu.

Apa mendingan saya bikin usaha bikin tas jahit terus jual Online?

Entahlah.

Soalnya kalau belanja pakai duit gaji sendiri dimarahin, giliran pakai duit ortu kagak, padahal saya tahu keuangan keluarga makin nipis. Pertanyaannya, disini siapa yang paling konsumtif? Saya atau keluarga?

Dua-duanya, deh.

—endofrandomrants—

(PMS does kill your mood to do anything)

 
Posted on February 01, 2012
tagged: blog. life.